Jamban Keluarga

16 Jul
  1. 1.         Pengertian Jamban Keluarga

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran atau najis manusia yang lazim disebut kakus/WC sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman (Depkes RI, 2001).

Rumah hendaknya mempunyai jamban sendiri yang merupakan salah satu hal penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan lingkungan           (Depkes RI, 2001).

 

  1. 2.         Macam-macam Jamban

Jamban di pedesaan Indonesia dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu jamban cemplung dan jamban tangki septik/leher angsa.

  1. Jamban cemplung: Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.
  2. Jamban tangki septik/leher angsa: Adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya (Firmansyah, 2009).
  3. 3.         Syarat-syarat Jamban Yang Memenuhi Syarat

Suatau jamban dikatakan sehat apabila memenuhi syarat, sebagai berikut :

a.   Tidak boleh mengotori tanah permukaan disekeliling jamban

b.   Tidak boleh mengotori air permukaan disekitarnya.

c.   Tidak dapat dijangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa.

d.   Tidak menimbulkan bau.

e.   Mudah digunakan dan dirawat.

f.    Desainnya sederhana.

g.   Murah.

h.   Dapat diterima oleh pemakainya (Notoatmodjo, 1997).

Agar persyaratan ini dapat terpenuhi maka perlu diperhatikan antara lain :

a.   Sebaiknya jamban tertutup, artinya bangunannya terlidung dari panas hujan, serangga dan binatang lain juga terlindung dari pandangan oang.

b.   Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat serta tempat berpijak yang kuat.

c.   Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pemandangan, tidak menimbulkan bau.

d.   Sedapat mungkin disedikan alat pembersih seperti air atau kertas pembersih.

e.   Sebaiknya letak jamban dari sumber air bersih adalah kurang lebih          10 meter.       

  1. 4.    Pengaruh Tinja Terhadap Sumber Air Bersih Dan Air Minum

Pembuangan tinja yang tidak pada tempatnya seringkali berhubungan dengan kurangnya penyediaan air bersih, kondisi-kondisi seperti ini akan berakibat terhadap kesehatan. Disamping itu pula menimbulkan pencemaran lingkungan dan bau busuk serta estetika.

Air yang telah tercemar mudah sekali menjadi media berkembangnya berbagai macam penyakit. Air secara fisik merupakan media peralatan dalam menularkan organisme penyakit, air minum sehingga mengakibatkan infeksi. Organisme berada di air karena air tercemar oleh kotoran penderita (Seramat, 2003).

 

       5.  Penyakit Yang Ditularkan Melalui Tinja

Pembuangan tinja manusia yang tidak memenuhi syarat kesehatan seringkali berhubungan dengan kurangnya penyediaan air bersih dan fasilitas kesehatan lainya. Jamban dapat memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap status kesehatan penduduk. Pengaruh langsung, misalnya dapat mengurangi insiden penyakit tertentu, sedangkan pengaruh yang tidak langsung berkaitan dengan komponen sanitasi lingkungan (Koesmantoro, 1991 dalam Mubarak, 2008).

Pembuangan tinja disembarang tempat dapat menimbulkan penularan berbagai penyakit. Adapun penyakit-penyakit yang ditularkan melalui tinja antara laian : Amoebiasis, Cholera, Stigellosis, Poliomyelitis, dan Typuhus.

  1. 6.      Transmisi Penyakit Dari Tinja

Manusia adalah reservoir dari penyakit-penyakit yang penularannya melalui tinja dan merupakan salah satu penyebab kematian dan cacat, hal ini dapat dikendalikan dengan memperbaiki kondisi lingkungan fisik yaitu dengan jalan perkembangan tinja yang saniter.

Transmisi penyakit dari orang sakit atau carier  ke manusia sehat melalui satu mata rantai tertentu seperti berikut :

a.   Agent penyakit

b.   Reservoir atau sumber infeksi dari agent penyebab

c.   Cara transmisi dari reservoir kepenjamu yang potensial

d.   Cara masuk ke penjamu baru

e.   Penjamu yang rentan

Jika salah satu dari keenam faktor tersebut tidak ada mengakibatkan penyebaran penyakit menjadi tidak mungkin.

Pemutusan mata rantai penularan penyakit dari tinja dengan rintangan sanitasi dapat dilakukan melalui penanganan tinja yang memenuhi aturan kesehatan atau dengan kata lain memanfaatkan jamban keluarga, sehingga tinja tidak mengotori tanah permukaan tidak mengotori air permukaan, tidak mengotori air dalam tanah, dan kotoran tidak dihinggapi vektor lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: